Warisan Terbaik Yang Ayah Berikan
Beberapa hari lalu Hari Ayah lewat. Tanggal 15 Juni.
Mungkin sebagian dari kita lupa. Atau ingat, tapi nggak tahu harus bilang apa? Dan akhirnya… ya sudah, lewat saja.
Aku sendiri belakangan ini justru sering kepikiran Ayah. Bukan karena momen tertentu. Mungkin karena usia. Mungkin karena pelan-pelan, cara pandangku berubah.
Dulu, hubungan kami cukup hangat. Kami sering ngobrol, bercanda, saling lempar celetukan receh. Tapi entah sejak kapan, semua itu makin jarang.
Bukan karena ada masalah. Hanya saja, diam terasa lebih gampang daripada menjelaskan perasaan yang nggak tahu harus dimulai dari mana.
Dan dari diam itulah aku mulai sadar: ternyata banyak hal tentang diriku… berasal dari Ayah.
Aku suka jalan-jalan. Suka pergi jauh, mencoba hal baru, bertemu orang asing, dan melihat hidup dari tempat yang belum pernah aku pijak. Dulu aku pikir itu cuma sifatku.
Sekarang aku tahu, itu Ayah.
Dulu Ayah sering touring, sering ke luar kota, sering pulang membawa cerita yang nggak selalu lengkap. Libur sekolah pun sering diisi dengan jalan-jalan. Waktu itu aku nggak banyak tanya.
Sekarang aku paham. Tanpa bilang apa-apa, Ayah sedang mengajarkan satu hal: dunia ini luas, dan kita punya hak untuk mengenalnya.
Aku suka jazz. Ayah suka blues.
Dan aku baru sadar, kenapa kami sama-sama suka musik yang pelan, dalam, dan butuh didengarkan pelan-pelan juga. Mungkin karena kami sama-sama nggak pandai mengungkapkan perasaan secara langsung. Mungkin karena bagi kami, rasa lebih nyaman disampaikan lewat nada, perjalanan, atau sekadar diam.
Ketertarikanku pada otomotif juga begitu. Ayah suka Land Rover dan hal-hal “maskulin” yang kelihatan keren. Aku tumbuh dengan rasa kagum yang lama-lama jadi minat. Aku nonton channel otomotif, memperhatikan desain mobil, mesin, detail-detail kecil yang dulu terasa sepele.
Lucu ya. Kadang kita merasa punya selera sendiri, padahal itu warisan yang diturunkan tanpa sadar lewat keseharian.
Dulu aku dan adikku sempat iri. “Kenapa Ayah sering pergi?”
Kami lupa bertanya: "kenapa Ayah harus pergi?"
Sekarang aku tahu. Itu bukan jalan-jalan. Itu tuntutan pekerjaan.
Ayah pergi supaya kami bisa tetap hidup nyaman. Ayah lelah supaya kami bisa bermimpi tinggi.
Dan suatu hari, Ayah pernah bilang: “Mungkin Ayah bisa keliling Indonesia. Tapi kalian bisa keliling dunia.”
Kalimat itu masih tinggal di kepalaku sampai sekarang. Muncul tiap kali aku capek, tiap kali aku ragu. Seolah Ayah bilang pelan: "Ayo nak, kejar mimpimu yang besar itu."
Sebagai anak, kita sering cuma melihat yang tampak. Tapi makin dewasa, kita mulai memahami yang rasanya nggak kelihatan: pengorbanan, harapan yang nggak pernah diucapkan, dan cinta yang nggak selalu dinyatakan.
Hari Ayah memang sudah lewat. Tapi mungkin justru sekarang waktu yang tepat untuk bertanya:
Hal apa saja yang diam-diam Ayah turunkan padaku? Dan berapa banyak dari diriku hari ini… sebenarnya jejaknya?
Dan pertanyaan paling sederhana, yang sering paling sulit: kapan terakhir kali aku bilang, “Terima kasih, Yah”?
Pada akhirnya, warisan terbaik dari Ayah bukan benda. Tapi cara melihat dunia. Keberanian untuk melangkah, bahkan saat sendirian. Selera yang membentuk caraku menikmati hidup. Dan kalimat-kalimat sederhana yang menetap, jadi pegangan saat dunia terasa berat.
Ayah mungkin nggak pernah menjelaskan semua itu. Tapi lewat caranya memilih, berjalan, dan bertahan, aku belajar.
Bahwa cinta nggak selalu harus dirayakan besar-besaran. Kadang ia hadir dalam bentuk keberanian, memberi yang terbaik, tanpa pernah meminta kembali.
Dan untuk itu, aku akan selalu berterima kasih. Untuk semua hal kecil yang Ayah wariskan dalam diam, yang hari ini, pelan-pelan, sedang aku hidupi.
Untuk semua Ayah di luar sana, terima kasih atas cinta tanpa pamrih, atas kehadiran yang sering luput dirayakan, dan atas pelajaran yang diajarkan tanpa kata-kata.

i love my dad ❤️
BalasHapus