Bagaimana Kisah Seorang Teman Memicu Lahirnya Gerakan Kepeduliaan
Sosial Peduli berawal dari hal yang sangat sederhana yaitu rasa tidak tega melihat orang terdekat merasa kesulitan.
Organisasi ini lahir dari sekelompok siswa angkatan IPS 25, di SMAN 2 Cimahi yang memiliki kegelisahan yang sama, bahwa di sekitar kami masih banyak sekali orang yang membutuhkan bantuan, sementara sering kali kami hanya bisa menyaksikan tanpa benar-benar melakukan apa pun.
Dari kegelisahan itu, muncul sebuah inisiatif kecil yang kemudian kami beri nama Sosial Peduli. Awalnya tidak ada struktur organisasi yang rumit atau rencana besar yang matang. Hanya sekelompok teman yang ingin mencoba melakukan sesuatu yang berarti bagi orang lain.
Gerakan ini pertama kali digagas oleh salah satu teman kami, Sendi Setiawan, yang kemudian menjadi founder dari Sosial Peduli ini. Ia adalah orang yang pertama kali benar-benar tergerak untuk mengubah percakapan tentang kepedulian menjadi tindakan yang nyata.
Awalnya, ada sebuah cerita sederhana yang membuka mata kami. Salah satu teman sekelas kami dinyatakan lolos melalui jalur SNBP di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran. Namun karena awalnya ia tidak menyangka akan diterima, ia sempat tidak mengurus program KIP-K, program bantuan pendidikan yang sebenarnya bisa membantu biaya kuliahnya.
Cerita itu membuat kami sadar bahwa akses pendidikan tidak selalu berjalan mulus bagi semua orang. Ada banyak perjuangan yang sering kali tidak terlihat di balik sebuah kabar baik.
Dari situ, Sendi mulai mengajak kami berdiskusi. Ia merasa bahwa jika ada kesempatan untuk membantu orang lain yang sedang berjuang dengan hal serupa, mungkin kami bisa mencoba melakukan sesuatu, meskipun hanya dari langkah yang cukup kecil.
Dari percakapan-percakapan sederhana itulah akhirnya lahir kegiatan Sosial Peduli Vol. 1 pada tahun 2025 setelah pengumuman SNBP. Saat itu kami mencoba mengumpulkan bantuan dan menyelenggarakan kegiatan sosial dengan kemampuan yang kami miliki sebagai siswa SMA. Tidak ada pengalaman sebelumnya, dan semuanya dilakukan sambil belajar.
Di luar dugaan, kegiatan pertama itu berhasil terlaksana dengan baik. Lebih dari sekadar mengumpulkan bantuan, kegiatan tersebut membuat kami belajar tentang kerja sama, tanggung jawab, dan bagaimana kepedulian kecil dapat memberikan dampak yang nyata bagi orang lain.
Namun justru dari kegiatan pertama itu kami mulai menyadari sesuatu yang lebih besar.
Awalnya, kami hanya berpikir untuk membantu satu teman yang sedang mengalami kesulitan. Tetapi seiring berjalannya waktu, kami mulai melihat bahwa cerita seperti itu tidak hanya terjadi pada satu orang saja. Ternyata ada beberapa teman lain, terutama dari angkatan IPS yang juga menghadapi tantangan serupa dalam melanjutkan pendidikan mereka.
Kesadaran itu perlahan membuka mata kami bahwa masalahnya lebih luas dari yang kami kira. Kepedulian yang awalnya lahir dari satu cerita ternyata membawa kami melihat realitas yang jauh lebih besar.
Dan dari situlah kami menyadari satu hal penting: masalah sosial tidak selesai hanya dengan satu kegiatan.
Kesadaran itu kemudian melahirkan gagasan untuk melanjutkan gerakan ini. Sosial Peduli tidak seharusnya berhenti pada satu acara saja.
Pada malam 4 Oktober 2025, Sendi bahkan rela datang dari Cimahi ke Jatinangor untuk bertemu kami, anak-anak Sosial Peduli yang saat itu sudah mulai berkuliah di Universitas Padjadjaran. Malam itu kami berkumpul dalam sebuah rapat kecil di sebuah kafe di kawasan Puri Indah. Di tengah obrolan santai dan secangkir teh, kami mulai membicarakan kemungkinan untuk melanjutkan gerakan ini
Pertemuan itu mungkin terlihat sederhana, tetapi di situlah semuanya dimulai lagi.
Setelah pertemuan tersebut, kami mulai menyusun kembali kepengurusan organisasi dengan lebih terstruktur. Kami membentuk beberapa divisi seperti PDD, HR, sekretaris, dan beberapa peran lain yang membantu jalannya kegiatan.
Seiring berkembangnya rencana kegiatan, kami menyadari bahwa gerakan ini tidak mungkin berjalan hanya dengan segelintir orang. Karena itu, pada Sosial Peduli Vol. 2 kami membuka rekrutmen volunteer. Awalnya kami mengira yang bergabung hanya adik-adik kelas kami di SMA, tetapi ternyata gerakan kecil ini juga menarik teman-teman dari kampus lain, seperti Universitas Jenderal Achmad Yani, Universitas Pendidikan Indonesia, hingga Institut Teknologi Bandung yang ikut hadir sebagai relawan.
Kehadiran mereka memberikan energi baru bagi gerakan ini. Sosial Peduli yang awalnya hanya digerakkan oleh teman-teman seangkatan perlahan mulai menjadi ruang kolaborasi lintas angkatan.
Aku juga sempat membuat laman Sosial Peduli di LinkedIn, dengan harapan organisasi kecil ini suatu hari bisa berkembang lebih luas dan menjangkau lebih banyak orang yang membutuhkan.
Pertemuan pertama dengan kepengurusan baru akhirnya dilakukan pada 19 Desember. Dari sana, rencana charity mulai disusun dengan lebih matang.
Untuk mengumpulkan dana, kami melakukan kegiatan sederhana: penjualan charity setiap hari Minggu pagi pukul 07.00 WIB di Lapang Gunung Bohong dan Brigif, Cimahi. Dari kegiatan kecil itu, kami belajar banyak tentang konsistensi, kerja sama, dan bagaimana kepedulian sering kali dibangun dari langkah-langkah yang kecil, yang dilakukan bersama-sama.
Seiring berjalannya waktu, tujuan dari kegiatan ini juga terasa semakin luas. Jika pada awalnya kami hanya berniat membantu teman-teman yang kesulitan secara finansial dalam pendidikan, perlahan gerakan ini berkembang menjadi sesuatu yang lebih besar, membantu adik-adik kelas kami, hingga akhirnya menjangkau anak-anak di panti asuhan.
Semua usaha itu akhirnya bermuara pada puncak kegiatan yang kami selenggarakan pada 27 Februari 2026 di Yayasan Panti Bakti 45 Sejahtera, Lembang, Bandung.
Di sana kami bertemu dengan banyak anak-anak yang menjadi alasan dari semua usaha ini. Kami menghabiskan waktu bersama mereka melalui berbagai kegiatan: berbuka puasa bersama, berbagi materi, tadarus, bermain game, hingga menutup hari dengan salat Magrib berjamaah.
Bagi sebagian orang, kegiatan itu mungkin terlihat sederhana. Namun bagi kami, momen itu mengingatkan kembali mengapa semuanya dimulai, bahwa kepedulian bukan hanya tentang semata-mata memberi, tetapi juga tentang hadir dan berbagi waktu dengan cara yang tulus.
Di balik semua kegiatan ini, ada rasa syukur yang juga aku rasakan secara pribadi.
Semester pertama kuliah bukan masa yang mudah bagiku. Aku masih berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, mencoba memahami ekosistem yang berbeda, dan jujur saja, aku belum sepenuhnya percaya diri untuk membuka diri pada orang-orang baru.
Karena itu, lingkaran pertemananku saat itu masih banyak berasal dari teman-teman SMA.
Justru dari situlah aku merasa Sosial Peduli menjadi sesuatu yang sangat berarti. Kegiatan ini memberiku alasan untuk terus pulang ke Cimahi untuk kembali bertemu dan membangun kebersamaan dengan teman-teman lama dari SMA IPS yang dulu sama-sama memulai inisiatif ini.
Sekarang kami sudah menempuh jalan masing-masing dan berkuliah di universitas yang berbeda. Namun Sosial Peduli membuat kami tetap terhubung melalui tujuan yang sama.
Aku juga bersyukur karena melalui kegiatan ini, waktu libur semester terasa jauh lebih bermakna. Bukan hanya diisi dengan berkumpul bersama teman, tetapi juga dengan sesuatu yang terasa produktif dan bermanfaat bagi orang lain.
Dan mungkin di situlah hal yang paling berharga dari semua ini: bukan hanya tentang apa yang berhasil kami berikan, tetapi juga tentang bagaimana proses ini ikut membentuk kami.
Pada akhirnya, kegiatan ini bukan hanya tentang apa yang bisa kami berikan. Justru dari prosesnya, kami belajar banyak tentang arti kebersamaan, kepedulian, dan tentunya bagaimana langkah kecil yang dilakukan bersama bisa membawa dampak yang lebih besar bagi banyak orang.
Mungkin tulisan ini juga menjadi caraku untuk mengucapkan terima kasih untuk teman-teman Sosial Peduli yang sejak awal memilih untuk tetap berjalan bersama, untuk para volunteer yang datang membawa semangat yang sama, dan untuk semua orang yang dengan caranya masing-masing ikut membuat gerakan kecil ini benar-benar berjalan.
Dan tentu saja, untuk Sendi Setiawan yang pertama kali berani mengubah percakapan sederhana tentang kepedulian menjadi langkah yang nyata. Dari satu langkah kecil yang ia mulai, akhirnya lahirlah sebuah gerakan yang mempertemukan begitu banyak orang dengan tujuan yang sama.

Komentar
Posting Komentar