Aku Sedang Belajar Bermimpi Dan Berani, Itu Saja
Dulu, saya pikir bermimpi besar itu hanya milik orang-orang hebat yang lahir dengan segalanya seperti akses, privilege, koneksi. Tapi semakin saya tumbuh, saya belajar bahwa satu hal yang tidak pernah dimonopoli siapa pun adalah: hak untuk bermimpi. Mimpi itu gratis, dan saya memilih untuk memeluknya erat-erat.
Pada 18 Maret 2025 saya sangat bersyukur, langkah pertama itu sudah dimulai. Saya resmi diterima di jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran. Tapi untuk saya, ini bukan akhir. Ini baru halaman pertama dari babak panjang yang ingin saya tulis. Saya nggak mau sekadar jadi mahasiswa biasa yang kuliah lalu lulus. Saya ingin menjadikan masa kuliah ini sebagai batu loncatan menuju mimpi yang lebih besar, bekerja di MBB (McKinsey & Company, Boston Consulting Group, atau Bain & Company), dan melanjutkan studi S2 di luar negeri dengan beasiswa fully funded.
Mungkin terdengar ambisius, tapi saya percaya, nggak ada salahnya mimpi tinggi toh? selama kita siap kerja keras dan terus belajar.
Saya masih ingat waktu SD nonton CNN, salah satu program berita internasional yang saya suka tonton di rumah. Saat itu mereka membahas daftar perusahaan dengan proses wawancara paling sulit di dunia. Di posisi pertama: McKinsey & Company. Entah kenapa, waktu itu saya langsung terdiam. Mungkin sebagian orang akan mundur setelah dengar fakta itu, tapi buat saya justru sebaliknya. Itu menjadi titik balik kecil di kepala saya: “Oke, suatu hari nanti aku harus duduk di sana. Aku mau jadi salah satu orang yang berhasil masuk.”
Bagi saya, MBB bukan cuma soal prestise. Ini soal tempat di mana ide-ide besar diuji, di mana para pemecah masalah terbaik dunia berkumpul, dan di mana saya dipaksa untuk terus bertumbuh. Saya ingin berada di lingkungan yang menantang, yang bikin saya deg-degan sekaligus semangat setiap hari.
Tapi saya juga tahu, untuk sampai ke sana, saya nggak cukup hanya mengandalkan ijazah. Saya harus membangun pengalaman, mengikuti kompetisi, aktif di organisasi, mencari mentor, belajar dari kesalahan, dan terus membentuk versi terbaik dari diri saya. Saya juga sedang menyiapkan diri untuk lanjut kuliah di luar negeri setelah S1, entah itu program MBA di INSEAD, LSE atau NUS, atau Master in Management di kampus TOP dunia. Tentu saja, saya ingin bisa berangkat dengan beasiswa penuh. Karena bagi saya, beasiswa bukan sekadar bantuan dana. Itu adalah bentuk kepercayaan dan tanggung jawab: bahwa saya layak diinvestasikan.
Saya sadar, jalan yang saya pilih ini tidak mudah. Tapi justru karena sulit, saya merasa tertantang. Kalau jalannya lurus-lurus aja, mungkin itu bukan jalan menuju mimpi.
Saya ingin suatu hari nanti bukan hanya sukses secara pribadi, tapi juga bisa membantu orang lain menemukan jalannya. Saya ingin berbagi ilmu, jadi mentor, dan membangun ruang-ruang belajar yang lebih terbuka dan inklusif. Karena mimpi itu memang gratis, tapi membangkitkan mimpi orang lain? Itu priceless.
Buat saya, jadi pemimpin bukan soal jabatan tinggi atau gaji besar. Tapi soal bagaimana saya bisa membawa dampak, memberi ruang bagi orang lain untuk tumbuh, dan jadi bagian dari perubahan yang lebih besar.
Hari ini saya berdiri di titik awal, dengan semangat dan peta jalan di tangan. Saya tahu tidak akan mudah. Tapi saya percaya, kalau kita cukup berani untuk bermimpi, kita juga harus cukup berani untuk berjuang.
Dan saya siap.

Komentar
Posting Komentar