Aku Lebih Nyaman Menulis, Bukan Karena Tak Bisa Bicara
Setiap orang punya cara tersendiri untuk mengekspresikan isi hati dan pikirannya, bukan?
Beberapa orang suka menyampaikan perasaannya secara langsung, to the point, tanpa ragu. Tapi ada juga yang lebih nyaman menuangkannya lewat tulisan, dengan jeda, dengan waktu, dengan keheningan.
Dan aku?
Aku baru benar-benar menyadarinya setelah masuk SMA
Ternyata aku termasuk tipe yang kedua.
Tipe yang butuh waktu untuk merangkai kata sebelum berbicara.
Aku suka menulis.
Bukan karena aku nggak bisa berbicara, aku tentu bisa, Aku bisa bercerita, berdiskusi, bahkan berdebat. Tapi menulis memberiku ruang yang lebih utuh dan tenang untuk menjadi diri sendiri. Lewat tulisan, aku bisa berpikir dulu sebelum bicara. Bisa jeda. Bisa menarik napas. Bisa memilih kata yang benar-benar mewakili apa yang aku rasakan.
Tanpa interupsi.
Tanpa ekspresi yang harus dijaga.
Tanpa tekanan untuk cepat-cepat.
Hanya aku, dan isi pikiranku yang mengalir pelan-pelan ke dalam kata-kata.
Kesadaran ini datang saat aku bergabung dengan ekstrakurikuler debat di sekolah. Awalnya, aku semangat sekali. Aku memang senang berdiskusi apalagi soal topik-topik seperti hak asasi manusia, energi terbarukan, kebijakan publik, isu sosial, sampai literasi. Rasanya ada bagian dari diriku yang hidup ketika membahas hal-hal itu. Seolah sisi idealis dalam diriku merasa dilibatkan.
Tapi begitu masuk ke sesi simulasi debat… aku mulai ragu.
Ternyata, aku lebih suka berdiskusi daripada berdebat.
Aku suka bertukar gagasan, bukan beradu argumen di bawah tekanan waktu.
Meski begitu, proses itu tetap banyak mengajarkan aku hal-hal berharga. Bahkan dari sesuatu yang nggak sepenuhnya aku nikmati, aku bisa tumbuh. Sampai akhirnya dipercaya mewakili sekolah di ajang LDBI, dan menjadi wakil ketua ekskul debat. Aku sendiri nggak menyangka bisa sampai sejauh itu.
Kalau dipikir-pikir, motivasiku bergabung ke dunia debat awalnya cukup sederhana.
Dulu, saat di SMP, teman-temanku sering memuji aku karena berani tampil.
Katanya aku vokal, berani speak up, dan nggak ragu membela yang benar.
Dan ya, memang begitu. Ketika aku melihat sesuatu yang tidak adil terutama terhadap mereka yang tertindas, aku akan maju tanpa ragu. Tapi aku bicara bukan karena ingin menang, melainkan karena hatiku terusik dan merasa perlu bersuara.
Meski begitu, menulis tetap jadi pelabuhan terdekatku.
Aku juga pernah ikut FLS2N cabang cipta puisi, dan waktu puisiku dibacakan di depan juri… ada satu komentar yang sampai sekarang masih bikin aku senyum-senyum sendiri.
Salah satu juri bilang, “Ini anak calon orator ulung!”
Padahal… yang aku tampilkan itu puisi, bukan pidato.
Mungkin karena cara penyampaianku yang begitu lantang dan penuh perasaan, mereka menangkap sisi vokalku juga, meski aku sendiri lupa bahwa aku sedang membacakan puisi, bukan membacakan teks proklamasi.
Lucu, ya?
Kadang dunia tetap bisa melihat energi "suara" itu… bahkan dari seseorang yang lebih nyaman menyampaikannya lewat tulisan.
Sekarang aku makin yakin, aku bukan orang yang senang bicara untuk melawan, aku lebih suka bicara untuk memahami. Dan kalau aku boleh memilih caraku sendiri, aku akan memilih menulis.
Lewat tulisan, aku bisa menyampaikan ide-ide yang rumit dengan cara yang lembut.
Bisa mengutarakan perasaan tanpa harus berteriak.
Bisa menyentuh… tanpa harus menyudutkan.
Oh ya, satu hal lagi, saat menulis blog ini, aku juga masih bingung… sebaiknya pakai kata ganti “aku” atau “saya”?
“Aku” terasa lebih dekat, lebih hangat, lebih jujur.
Tapi “saya” terdengar rapi, lebih formal, dan lebih dewasa.
Dan mungkin… itulah aku sekarang: masih berada di antara keduanya.
Antara remaja yang sedang tumbuh, dan pribadi yang pelan-pelan ingin dipandang lebih matang.
Jadi kalau kamu membaca tulisan ini dan mendapati gaya bahasanya berubah-ubah, mohon dimaklumi, ya. Aku masih belajar.
Bukan hanya soal gaya menulis, tapi juga soal mengenali siapa diriku yang sebenarnya.
Menulis membuatku merasa utuh.
Dan lewat tulisan ini, aku berharap walau tidak bicara secara langsung ada yang bisa kamu rasakan juga.
Mungkin ketenangan. Mungkin keberanian.
Atau mungkin dorongan kecil untuk mulai menulis dari sekarang.
– edited wednesday 25 june 2025

Komentar
Posting Komentar