Setelah Lulus, Aku Memilih Pelan-Pelan Saja

“Aku sekarang lagi ngapain, ya?”

Itu pertanyaan yang sering banget mampir, baik dari orang lain, atau… dari diri sendiri. Setelah pengumuman SNBP keluar dan aku resmi diterima di universitas pilihan pertamaku semuanya rasanya seperti rollercoaster emosional. Ada lega, ada senang, tapi juga... tiba-tiba sepi.

Karena setelah euforia itu berlalu, muncul pertanyaan baru: “Terus sekarang ngapain yaa?”

Aku sadar, masa tunggu sebelum kuliah ini adalah waktu yang nggak semua orang punya. Maka, aku putuskan untuk nggak sekadar nunggu gitu aja, tapi mulai membangun versi terbaik dari diri sendiri, pelan-pelan aja tapi pasti.

Setiap pagi aku mulai hari dengan olahraga ringan mulai dari stretching, kadang jogging kecil sambil dengerin podcast. Nggak muluk-muluk, tapi cukup untuk jaga badan tetap segar dan pikiran tetap waras.

Aku juga lagi serius belajar IELTS. Karena aku punya mimpi besar: kuliah S2 di luar negeri dengan beasiswa fully funded. Setiap kali buka soal reading atau listening, aku tahu ini bukan sekadar latihan, tapi bagian dari perjuangan menuju mimpi itu. Mungkin belum kelihatan hasilnya sekarang, tapi aku percaya semua proses ini akan terbayar nanti.

Di sela-sela itu, aku suka nonton TED Talks. Dengerin podcast yang bahas karier, hidup, dan kadang kegagalan juga. Rasanya kayak dikasih perspektif baru tiap hari. Ada kalimat yang pernah aku denger di satu episode:
“Your 20s is for planting, not harvesting.”
Dan itu nempel banget di kepala aku sampai sekarang.

Aku juga mulai baca buku finance, manajemen, sampai artikel Medium yang ngebahas personal growth dan realita dunia kerja. Karena aku tahu, masuk kampus top aja nggak cukup. Aku mau datang ke dunia perkuliahan nanti dengan kepala dan hati yang lebih siap.

Dan satu hal lagi yang jadi bagian penting dalam keseharian aku sekarang: menulis dan journaling.

Aku suka banget nulis, entah itu cerita pendek, catatan reflektif, atau sekadar curhatan jujur ke diri sendiri. Kadang lewat tulisan, aku jadi lebih paham isi kepala dan hati. Nulis jadi ruang aman aku, tempat di mana aku bisa jujur, berproses, dan mengarsipkan versi-versi diri yang sedang bertumbuh.

Lewat journaling juga, aku belajar menghargai hal-hal kecil. Kayak perasaan bangga setelah selesai satu bab IELTS, atau rasa lega setelah olahraga pagi. Semua itu aku tulis, karena aku percaya memori yang ditulis akan hidup lebih lama.

Tapi hari-hariku nggak cuma soal belajar dan journaling aja.
Belakangan ini, aku juga lagi sibuk bantu galang dana dan kegiatan sosial bareng temen angkatan IPS sekolah ku. Kita ngadain charity kecil-kecilan buat bantu teman kami yang kekurangan dana pendidikan. Selain itu, kami juga lagi rancang program untuk bantu panti asuhan, dari donasi buku, pakaian, sampai sumbangan alat belajar.

Aku seneng banget bisa ikut gerakan kayak gini. Rasanya bikin hari-hari terasa lebih bermakna.
Belajar itu penting, tapi berbuat sesuatu untuk orang lain juga nggak kalah berharganya.
Dan dari sini aku belajar satu hal: kita nggak harus tunggu “jadi sesuatu” dulu untuk mulai bantu orang lain.

Aku tahu ini fase yang nggak semua orang lihat. Kadang kelihatan kayak nganggur, padahal sebenarnya lagi nanem banyak hal! Lagi nyiapin fondasi. Lagi bangun sistem. Lagi nyicil percaya diri. Jadi jangan mikir aku nganggur beneran ya! :p

Buat aku, setelah lulus bukan berarti harus langsung lari. Nggak apa-apa kok jalan pelan. Yang penting tetap bergerak.

Karena aku percaya, mimpi itu gratis, tapi memperjuangkannya perlu waktu, usaha, dan keberanian untuk mulai dari hal-hal kecil. Dan sekarang, aku lagi di sana, di fase kecil tapi bermakna itu.

Kalau kamu juga lagi di titik ini, percayalah: kamu nggak sendirian. Kita mungkin belum tahu akan jadi apa nanti, tapi selama kita terus belajar dan nggak berhenti, kita sedang menuju ke sana.

Pelan-pelan aja. Asal jangan diam. 

Komentar

Postingan Populer