Semua Berawal Dari Satu Kalimat

Pernah nggak sih kamu nonton kisah kriminal, lalu bukannya ngeri karena kejahatannya, tapi malah sedih karena... kamu jadi paham kenapa seseorang bisa sampai segelap itu?

Beberapa malam lalu, aku nonton dokumenter dan wawancara asli Edmund Kemper, salah satu pembunuh berantai paling terkenal di Amerika, yang juga diangkat dalam serial Mindhunter. Tapi yang menarik buatku bukan sekadar cerita kejahatannya. Yang bikin aku mikir panjang justru adalah bagaimana ibunya memperlakukan dia sejak kecil.

Edmund dibesarkan dalam lingkungan rumah yang penuh kekerasan verbal dan emosional. Ibunya, Clarnell Strandberg, berulang kali menyebut Ed sebagai anak yang “berbahaya”, “cacat mental”, “tidak akan pernah dicintai perempuan,” dan “lebih baik dipisahkan dari manusia lain.” Bahkan, waktu kecil, Ed disuruh tidur di basement yang gelap, hanya karena ibunya takut ia akan menyakiti saudara perempuannya.

Dan dari situ, aku mulai nyari tahu kok bisa luka emosional sekecil itu berubah jadi bencana besar?

Dan aku teringat teori labeling dari Howard S. Becker, seorang sosiolog terkemuka. Menyatakan bahwa penyimpangan bukanlah sesuatu yang melekat pada perbuatan itu sendiri, melainkan pada reaksi sosial terhadap perbuatan itu.

Dengan kata lain, seseorang bisa menjadi "penyimpang" karena dilabeli sebagai penyimpang. Dan kalau label itu terus-menerus dilekatkan, lama-lama ia akan menginternalisasi label tersebut. Dia mulai melihat dirinya bukan sebagai "orang biasa", melainkan “anak nakal”, “gagal”, “berbahaya”, bahkan “tidak pantas dicintai.” Dan itulah yang terjadi pada Ed Kemper. 

Bukan berarti semua orang yang dilabeli akan menjadi pembunuh. Tapi dalam kasus Ed, kombinasi antara trauma masa kecil, label negatif yang terus dilontarkan, dan kurangnya dukungan sosial menjadi faktor yang sangat kuat dalam membentuk identitas dan kepribadiannya sampai akhirnya berubah menjadi pelaku kekerasan yang mengerikan.

Ini bukan hanya soal Ed Kemper, ini soal kita Juga. Setelah nonton itu, aku jadi refleksi diri.

Berapa banyak dari kita yang pernah (atau sering) dilabeli negatif sejak kecil?

“Kamu tuh bandel.”
“Adikmu lebih pintar.”
“Jangan mimpi tinggi-tinggi, kamu nggak bakal bisa.”
“Dasar pembuat masalah!”

Atau lebih halus tapi tetap merusak:

“Kamu tuh lebay banget sih.”
“Ah gitu aja nangis.”
“Kamu kok nggak kayak anak si A sih?”

Dan tanpa sadar, label itu kita simpan, kita bawa sampai dewasa dan kita jadikan kacamata untuk melihat diri sendiri.

Kita sering diajarkan untuk hati-hati dengan tindakan. Tapi kita jarang diajarkan untuk hati-hati dengan ucapan.

Padahal, kalimat yang dilontarkan berulang bisa jadi mantra hidup, entah untuk membangun atau menghancurkan.

Dan yang lebih menyedihkan, banyak dari kita masih memelihara kebiasaan itu. Seringkali, kita dengan enteng men-judge orang lain:

“Dia emang anaknya bandel.”
“Ya pantes aja, dia kan emang dari dulu nyusahin.”
“Emang dasar bocah problematik.”

Lupa bahwa label yang kita sematkan mungkin sedang ditelan bulat-bulat oleh yang mendengarnya.

Salah satu dialog yang paling kuat dalam serial Mindhunter adalah ketika Ed berkata:

“She’s the one who had the brains... but she used them to tear me down.”
(Mindhunter, Season 1)

Dan dalam wawancara aslinya, Ed pernah mengatakan hal yang bahkan lebih tajam:

“If I had killed her (his mother) first, the others wouldn’t have happened.”

Kalimat itu bukan pembenaran, tapi refleksi bahwa kemarahan dan luka terdalamnya selalu berpusat pada sosok yang memberinya label buruk sejak kecil. Sosok yang seharusnya jadi tempat paling aman, tapi malah jadi racun paling mematikan.

Dari Ed Kemper aku belajar, bahwa bukan cuma luka fisik yang membahayakan. Tapi luka dari kalimat yang terus ditanamkan... bisa jauh lebih dalam.

Dan teori labeling membuktikan, bahwa perilaku manusia bisa dibentuk dari citra yang diberikan orang lain. Seseorang bisa mulai percaya bahwa dirinya memang buruk, hanya karena dunia terus bilang dia begitu.

Jadi...

Kalau belum bisa memberi dukungan, setidaknya jangan jadi sumber kehancuran.
Kalau belum sanggup mengangkat, setidaknya jangan jadi tangan yang mendorong jatuh.
Kalau belum sanggup menyembuhkan, setidaknya jangan melukai.

Karena kata-kata bisa jadi pisau,
tapi juga bisa jadi pelukan.
Kita tinggal pilih, mau jadi yang mana.

“Labeling someone is not an opinion it’s a responsibility. Because some people live the rest of their life based on what we tell them they are.”

Komentar

Postingan Populer